|
Desa
GOWOK - Arti & Asal Usul
CERITA
LISAN VERSI I
Inilah salah satu ceritera tentang asal-usul dan arti Gowok.
Menurut sebuah ceritera lisan secara turun - temurun diceritakan
karena peperangan atau perselisihan kerabat atau punggawa
Kasultanan Yogyakarta maka menyingkirlah perintis Desa Gowok. Dia
(atau mungkin juga mereka) terus berjalan kearah Barat untuk
menjauhi pusat kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.
Dia (atau mereka)
terus berjalan selama berhari-hari tau bahkan berminggu-minggu
melalui hutan yang gung liwang-liwung, naik turun gungung,
melintasi banyak sungai, akhirnya sampailah daerah yang paling
jauh, terpencil - paling Barat. Sebagaimana cerita lisan tadi,
sebelum pendiri Desa ini memulai bertani dan mendirikan rumah di
daerah yang kini disebut Desa Gowok, dia menemukan banyak lubang
di pohon (gowokan) yang dipakai untuk bersarang dan bersembunyi
burung, khususnya burun Platuk. Mereka merasa aman di
lubang-lubang pohon kering itu. Pendiri Desa Gowok juga merasa
sebagai pelarian, dan sudah berlari atau bersembunyi di daerah
yang paling jauh, terpencil, ujung dunia, pucuking gunung - dan
merasa aman - bagai burung Platuk di gowokk - maka Desa ini juga
mereka beri nama Gowok.
Nama inilah yang
kemudian dipakai secara turun-temurun sampai masa kini. Dan nama
itu tak pernah berubah sejak dului sampai sekarang. Memang untuk
mencapai Desa Gowok terasa jauh dari segala arah atau mana saja,
terutama sebelum tahun 1980-an. Desa ini mulai terbuka dan mudah
dijangkau setelah pemerintah Indonesia mulai melebarkan dan
mengeraskan jalan menuju desa-desa sekitarnya.
CERITA LISAN
VERSI II
Di samping itu, ada juga ceritera lisan yang lain. Diperkirakan
Desa Gowok telah dihuni oleh para kakek-nekek leluhur orang Gowok
sejak awal tahun 1800-an. Orang mengatakan sebagian kecil pengikut
R. Diponegoro melarikan diri ke daerah ini dan mendirikan Desa
Gowok. Akhirnya mereka menemukan daerah yang paling subur ini di
Kecamatan Samigaluh. Itu sebabnya kerja keras, ulet, berpikiran
kritis, semangat oposan, dan jiwa pemberontak tak jarang masih
mewarnai pola pikir, perilaku dan sikap sebagian warga Desa Gowok.
Bisa dipahami bila warga Desa Gowok sejak dulu terkenal
terpelajar dibandingkan desa-desa sekitarnya.
Oleh sebab itu
bisa dipahami bila Kyai Sadrach, seorang penziarah dan pencari
kebenaran alam spritual kejiwaan pada akhir abad ke 19 mempunyai
banyak pengikut di Desa ini. Beliau sendiri pernah beberapa kali
mengunjungi Desa Gowok ini. Dia telah merasakan sentuhan alami
tanah, air dan udara di Desa Gowok. Sayang karena pikiran dan
gerakannya lah Kyai Sadrach terpaksa harus keluar masuk penjara.
Sejarah Kyai Sadrach menjadi contoh korban pencampuradukan antara
agama, kepercayaan dan negara. Bila pikiran dan praktek Kyai
Sadrach dibiarkan terus berkembang barangkali sejarah Jawa (dan
mungkin Indonesia) jadi berbeda. Kepicikan dan kelicikan lembaga
keagamaan dan negaralah maka Kyai Sadrach jadi tersingkir. Sampai
akhir hayatnya dia mendirikan padepokan di daerah Karangjoso,
Kutoarjo.
Apakah cerita ini
benar? Hanya sejarah dan Hyang Agung-lah yang tahu apa yang
sungguh-sungguh terjadi pada masa lalu.
|