Pondok Beranda | Pondok Profil | Pondok Konseling | Pondok Produk | Pondok Wacana | Pondok Pramusita 

Jum'at, 21-11-2008

Overview | Arti & Asal Usul | Letak Geografis | Lingkungan Sosial | Produksi Utama | Ingin ke Gowok?

 

  • Desa Gowok

  • Pondok Kartya
  • Pondok Pahuman
  • Pondok Situs
  • Pondok Among Tamu
  • Pondok Kontak
  • Pondok Link

  • Pondok Donasi
  •  

     

    Desa GOWOK - Arti & Asal Usul

    CERITA LISAN VERSI I

    Inilah salah satu ceritera tentang asal-usul dan arti Gowok. Menurut sebuah ceritera lisan secara turun - temurun diceritakan karena peperangan atau perselisihan kerabat atau punggawa Kasultanan Yogyakarta maka menyingkirlah perintis Desa Gowok. Dia (atau mungkin juga mereka) terus berjalan kearah Barat untuk menjauhi pusat kekuasaan Kasultanan Yogyakarta.

    Dia (atau mereka) terus berjalan selama berhari-hari tau bahkan berminggu-minggu melalui hutan yang gung liwang-liwung, naik turun gungung, melintasi banyak sungai, akhirnya sampailah daerah yang paling jauh, terpencil - paling Barat. Sebagaimana cerita lisan tadi, sebelum pendiri Desa ini memulai bertani dan mendirikan rumah di daerah yang kini disebut Desa Gowok, dia menemukan banyak lubang di pohon (gowokan) yang dipakai untuk bersarang dan bersembunyi burung, khususnya burun Platuk. Mereka merasa aman di lubang-lubang pohon kering itu. Pendiri Desa Gowok juga merasa sebagai pelarian, dan sudah berlari atau bersembunyi di daerah yang paling jauh, terpencil, ujung dunia, pucuking gunung - dan merasa aman - bagai burung Platuk di gowokk - maka Desa ini juga mereka beri nama Gowok.

    Nama inilah yang kemudian dipakai secara turun-temurun sampai masa kini. Dan nama itu tak pernah berubah sejak dului sampai sekarang. Memang untuk mencapai Desa Gowok terasa jauh dari segala arah atau mana saja, terutama sebelum tahun 1980-an. Desa ini mulai terbuka dan mudah dijangkau setelah pemerintah Indonesia mulai melebarkan dan mengeraskan jalan menuju desa-desa sekitarnya.

    CERITA LISAN VERSI II

    Di samping itu, ada juga ceritera lisan yang lain. Diperkirakan Desa Gowok telah dihuni oleh para kakek-nekek leluhur orang Gowok sejak awal tahun 1800-an. Orang mengatakan sebagian kecil pengikut R. Diponegoro melarikan diri ke daerah ini dan mendirikan Desa Gowok. Akhirnya mereka menemukan daerah yang paling subur ini di Kecamatan Samigaluh. Itu sebabnya kerja keras, ulet, berpikiran kritis, semangat oposan, dan jiwa pemberontak tak jarang masih mewarnai pola pikir, perilaku dan sikap sebagian warga Desa Gowok. Bisa dipahami bila warga Desa Gowok sejak dulu terkenal terpelajar dibandingkan desa-desa sekitarnya.

    Oleh sebab itu bisa dipahami bila Kyai Sadrach, seorang penziarah dan pencari kebenaran alam spritual kejiwaan pada akhir abad ke 19 mempunyai banyak pengikut di Desa ini. Beliau sendiri pernah beberapa kali mengunjungi Desa Gowok ini. Dia telah merasakan sentuhan alami tanah, air dan udara di Desa Gowok. Sayang karena pikiran dan gerakannya lah Kyai Sadrach terpaksa harus keluar masuk penjara. Sejarah Kyai Sadrach menjadi contoh korban pencampuradukan antara agama, kepercayaan dan negara. Bila pikiran dan praktek Kyai Sadrach dibiarkan terus berkembang barangkali sejarah Jawa (dan mungkin Indonesia) jadi berbeda. Kepicikan dan kelicikan lembaga keagamaan dan negaralah maka Kyai Sadrach jadi tersingkir. Sampai akhir hayatnya dia mendirikan padepokan di daerah Karangjoso, Kutoarjo.

    Apakah cerita ini benar? Hanya sejarah dan Hyang Agung-lah yang tahu apa yang sungguh-sungguh terjadi pada masa lalu.

       

     

    Copyright © 2006 - Pondok Tridharma Manunggal
    Powered by:
    LEAKBALI.Com